Naddine terbangun. Dia menangis hingga terlelap tidur. Matanya bengkak, sembab. Ia bangkit ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Saat kembali ke kamar dan melihat wajahnya dikaca. Ternyata cuci muka tidak bisa menyamarkan mata bengkak dan kesedihannya. Dia kembali teringat bahwa kemarin malam Rain memutuskan hubungan mereka. Naddine mengecek hapenya, itu bukan mimpi. Itu kenyataan. Air mata kembali menetes dari mata Naddine. Dadanya sesak, hatinya sakit terkoyak-koyak rasanya. Dia harus menghadapi kenyataan itu mulai hari ini. Di setiap bangun dari tidur ia sadar bahwa itu bukan hanya sekedar mimpi buruk melainkan kenyataan buruk yang bahkan tidak pernah dibayangkannya. Dia tidak nafsu makan, tidak nafsu bergerak. Dia hanya diam mengurung diri di kamar. Adiknya bingung dengan perubahan kakaknya itu. Mama Naddine juga menyadari sikap anak pertamanya, namun saat ia bertanya pada Naddine, Naddine hanya berkata tidak apa-apa.
Sudah lima hari Naddine tidak makan dan murung. Tubuhnya makin terlihat lunglai dan kurus. Dia terus saja menahan rasa lapar yang menerpa sampai perutnya sakit karena tidak mendapat asupan apapun kecuali air putih. Naddine terus menyiksa dirinya, bahkan ia mempunyai sejuta ide jahat dipikirannya. Ia ingin menyakiti dirinya sendiri, ia ingin pergi dari rumah, ia bahkan ingin membunuh dirinya sendiri.
Teman-teman dekatnya sudah tau kalau hubungan Naddine dan Rain sudah berakhir. Mereka sebenarnya kaget setelah tau. Karena pasangan itu adalah pasangan yang selalu terlihat akur, mesra, kompak, bahkan tidak pernah terdengar bahwa mereka sedang bertengkar, dan kini tibatiba saja mereka putus. Sungguh disayangkan. Namun beberapa dari mereka juga paham ketika mendengar kabar putus, karena menurut mereka pasangan itu memiliki perbedaan yang sulit untuk disatukan. Ya, mereka berbeda keyakinan. Satu hal mutlak yang sangat sulit untuk disatukan kecuali jika ada satu diantaranya yang mengalah.
Naddine mendapatkan beberapa saran dari temannya. Ia sudah mandi dan bersiap pergi. Dia berniat untuk menemui Rain. Dia pergi ke arah rumah Rain. Sesampainya di dekat rumah Rain, ia berhenti di depan ruko di pinggir jalan depang gang rumah Rain. Naddine tidak berani ke rumah Rain karena biasanya jam segitu orangtua Rain sudah berada di rumah. Naddine juga tidak tau apakah Rain ada di rumah atau di sekolah tempat dia mengajar yang letaknya memang dekat dari rumahnya. Maka itu Naddine memutuskan meminta bantuan seorang temannya..
Naddine deO : Ndra, can you help me?
Andra Tanoe : Uit, napa Nadd?
Naddine deO : Lu masih temenan sama Rain kan di BBM?
Andra Tanoe : Masih, why?
Naddine deO : Tolong dong Ndra, bbm-in dia.
Bilangin ke dia, kalo gue tunggu dia di depan gang rumahnya, tempat biasa.
Gue bakal tunggu disini sampe dia datang nemuin gue, ga perduli mau sampe kapan.
Andra Tanoe : Gilaaaaa! Lu nekat amat cuy!
Naddine deO : Please, Ndra. Tolongin gue. Gue ga bisa bbm dia.
Andra Tanoe : Ok2. Gue bbmin. Lu mau sampe kapan nungguin dia?
Naddine deO : Thanks ya Ndra. Sampe dia kesini
Andra Tanoe : Nadd, mending lu balik deh. Dia bilang dia sibuk, gak mau nemuin lu juga.
Naddine deO : Yaudah bilang aja, kerjain aja dulu kesibukan dia. Kalo udah baru temuin gue.
Andra Tanoe : Ah, gila amat sih lu Nadd! Nekat amat.
Naddine deO : Gue sayang banget banget sama dia Ndra
Andra Tanoe : Iyaiya udah gue bilang ke dia tuh. Kalo sore dia belum datang lu balik ya Nadd.
Naddine deO : Hmm. Liat nanti Ndra.
Naddine memasukkan hapenya ke dalam tasnya ketika melihat motor byson biru mendekat padanya. Rain datang..
“Mau apa?”, tanya Rain dengan muka datar.
“Maafin aku beb..”, jawab Naddine dengan tatapan sedih
“Kamu ga salah apa-apa. Udah pulang sana, aku lagi sibuk. Ini aja aku harus nemuin dosen”
“Yaudah kamu kelarin dulu aja kesibukan kamu. Aku tunggu di sini aja. Aku gak akan ganggu kamu kok”
Rain naik ke atas motornya dan melesat pergi meninggalkan Naddine tanpa berkata apa pun.
Naddine menatap nanar motor yang terus melaju hingga tak terlihat lagi. Naddine menunduk, menenggelamkan kepalanya di stang motor. Air matanya menetes lagi. Sakit… Itu yang dirasakan Naddine. Dia tidak memperdulikan tatapan orang, cibiran orang, dan godaan orang yang melihatnya di pinggir jalan.
(RAIN POV) Rain menatap dari jauh gadis yang kini menunduk menyenderkan kepalanya di stang motornya. Rain yakin gadis itu pasti menangis lagi. Sebenarnya, Rain tidak tega saat melihat Naddine begitu rapuh seperti tadi. Matanya sembab, wajahnya sedih. Senyum yang selalu ada untuknya kini menghilang. Ini semua memang salahnya. Hal ini lah yang membuat ia tidak ingin menemui Naddine, ia tidak kuat melihat gadisnya sedih. Sedih karenanya. Rain pun memutuskan untuk kembali, ia tau betul bahwa Naddine akan terus ada di sana mungkin sampai malam kalau ia tidak menemuinya.
Naddine mendongkan kepala saat ia mendengar suara motor yang sangat ia kenal mendekat lagi. Rain datang lagi.
“Ayo ikut aku, jangan ngomong disini, engga enak dilihat banyak orang”, kata Rain tanpa turun dari motor. Hanya melepas helm nya saja.
“kemana?” “udah ikutin aja aku”
Naddine mengikuti arah motor Rain pergi. Tidak jauh dari tempat mereka tadi, melewati sekolahan tempat Rain mengajar. Mereka berhenti dipinggir jalan sepi. Rain turun dari motor dan melepas helmnya, begitu juga dengan Naddine.
“kenapa?”, tanya Rain.
“kenapa kamu mutusin aku?”, Naddine balik bertanya.
“kemaren kan udah aku bilang sama kamu, aku bakal sibuk”, Rain menjawab dengan muka datar.
“apa selama ini aku menghalangi kesibukan kamu? Enggak kan, kamu bebas mau kemana aja, ngapain aja, sama siapa aja, selama di batas wajar.”, Naddine menatap mata Rain dalam, seolah berkata, bener kan yang aku bilang
“maafin aku, tapi kita tetep harus putus. Udah ya aku udah dicariin nih”, kata Rain seolah tidak perduli dengan tatapan Nadd, ia terus saja menatap layar hapenya. Semenjak putus dari Nadd, ia memindahkan aplikasi BBMnya ke hape agar lebih mudah berkomunikasi dengan grup PPLnya di bbm, karena jika di tablet akan sangat ribet karena ia harus bawa tablet kemana pun ia pergi.
Naddine emosi, dia merampas hape Rain. Padahal selama ini untuk memegang hape Rain saja dia takut, takut Rain menganggapnya terlalu posesif dan tidak percaya kepadanya. Rain yang melihat hal itu ikut emosi
“apaan-apaan sih kamu”, mengambil paksa hapenya kembali dari tangan Nadd.
“kamu juga terus-terusan ngelihat hape. Lebih penting chat itu daripada aku?
“okeoke.”, Rain memasukkan hapenya ke dalam saku bajunya.
“salah aku apa beb? Bilang salah aku apa, biar aku perbaiki.”
“engga ada. Kamu tau kan kita itu beda, ujung-ujungnya juga kita bakal putus. Jadi buat apa menunda hal menyakitkan itu lagi?”, kata Rain dengan satu tarikan nafas.
“aku mau, aku rela pindah agama ikut kamu”, jawaban Naddine membuat Rain tersentak. Rahangnya mengeras.
“gak bisa.. susah. Selain itu kamu tau kan orangtua aku gak suka sama kamu? Aku capek harus denger kamu dihina-hina mereka terus, aku gak perduli kalau mereka itu hina aku, tapi hati aku sakit kalo kamu yang digituin”, jujur Rain.
“iya aku tau, aku enggak kayak yang di inginkan orangtuamu. Aku kurus, penyakitan. Aku juga bukan orang kaya, aku orang susah. Tapi semua itu bisa berubah kan? Kamu tau, kamu orang pertama yang berhasil buat berat badan aku naik. Kamu juga tau, nasib dan hidup seseorang itu
bisa berubah, aku juga bisa sukses nantinya. Aku bukan tipe perempuan yang kerjaannya hanya duduk anteng di rumah, aku pekerja keras, kamu kan tahu semua itu. Lagian aku gak perduli sama hinaan mereka, kamu cuma perlu tutup kuping dan bersikap masa bodoh. Jangan dimasukin ke hati. Aku gapapa.”
Rain terdiam mendengarnya. Dia bahkan tidak berani menatap mata Naddine yang sedari tadi terus menatap ke arahnya. Dia tahu, dia sungguh tahu. Tapi Rain sudah mengambil keputusan.
“maafin aku Nadd. Aku tetep gak bisa.. maafin aku. Aku gak bisa nerusin hubungan ini. Aku mau fokus sama hidup aku. Kita masih bisa temenan kayak dulu. Aku bisa jadi apapun yang kamu mau, jadi temen, sehabat, adek-kakak, apa pun itu. Tapi aku enggak bisa jadi pacar kamu lagi. Cukup udah, jangan menunda lagi kata pisah. Aku gak mau kalo ditunda lagi nanti adanya kita semakin tersakiti Nadd. Malah akan timbul benci.”
Naddine tidak bisa menahan air matanya. Ia jongkok menekuk lututnya membenamkan wajah dan
kepalanya. Air matanya terus meleleh mengalir membasahi pipi dan bajunya. Rasanya tidak sanggup Rain melihatnya, ingin sekali ia memeluk gadis yang berjongkok di sampingnya itu.
“terus aku harus gimana lagi? Aku harus ngelakuin apa lagi biar kamu gak putusin aku?, Naddine pasrah
“kamu enggak perlu ngapa-ngapain. Cukup bersikap kayak biasa kita dulu. Kita tetep bisa deket kok.”, Rain akhirnya mengalah. Sejujurnya ia juga tidak tahu kuat atau tidak jika harus berdiam diri terus menerus dengan Naddine.
“aku minta tolong kamu ngertiin aku yah. Kita masih bisa chat kok, sms, telpon, pergi bareng berdua. Tapi enggak sebagai pacar.”, tambahnya lagi
Naddine bangkit berdiri menatap Rain sendu.
“jangan nangis lagi yah.”, kata Rain lagi sambil menyeka air mata Nadd dengan jari-jari tangannya.
“Tapi jangan tinggalin aku yah.. kamu tau kan semua yang udah kita lakuin itu berharga buat aku. Maafin aku buat salah aku selama jadi pacar kamu. Please, tetap ada di sisi aku..”, mohon Naddine dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, maafin aku juga ya Nadd. Jangan nangis lagi yah abis ini. Aku janji akan tetap ada buat kamu kapan pun kamu butuh aku.”
Naddine hanya diam menatap Rain. Ia tidak bisa menahan air mata yang sudah bersarang di pelupuk matanya, air mata itu jatuh. Naddine menunduk, ia tidak ingin Rain melihatnya menangis lagi.
Rain maju selangkah dan memeluk gadis yang ada di depannya itu. Ia sudah tidak kuat lagi
menahannya. Ia mengusap punggung Nadd. Naddine menangis di dada laki-laki itu, membasahi
bajunya, mengeratkan pelukan mereka, meremas punggung Rain. Rain membiarkan gadis itu menangis beberapa lama, sampai tangisannya reda barulah ia melepaskan pelukan itu.
“kamu udah makan? Kamu pucat banget. Kamu bisa kan pulang sendiri, aku engga bisa nganterin kamu. Aku harus balik ke sekolahan. Kamu kuat kan?”, tanya Rain.
Naddine mengangguk pelan. Lalu Rain mengikutinya melangkah ke motor mereka.
“Jangan nangis lagi yah. Nanti aku chat kamu.”, kata Rain sambil tersenyum tipis.
“kan aku kamu delcont”,
“sini hape kamu”
Setelah mendapatkan hape Naddine, Rain menginvite kembali pin bbm nya. Dan mengacceptnya.
“nih udah kan, maaf yah”, seraya memberikan hape Naddine kembali ke sang pemiliknya.
Naddine berdehem pelan menjawab omongan Rain. Ia memasukkan hapenya ke dalam tasnya.
Ketika Naddine ingin memakai helmnya, Rain menahannya. Ia menarik tubuh Nadd mendekat kepadanya dan memberikan kecupan lama di kening Nadd.
Nadd kaget, tapi ia hanya diam memejamkan mata merasakan kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya. Lalu tangannya kembali memeluk Rain lagi.
“itu hadiah dari perpisahan kita. Ciuman kening dengan penuh ketulusan”, kata Rain dengan senyum mengembang di wajahnya.
Naddine tersenyum tipis. “makasih yah beb”, Naddine menutup mulutnya. Ia terbawa kebiasaan memanggil Rain dengan sebutan beb.
“gapapa kalo mau masih manggil beb. Aku juga sebenernya pengen manggil kamu beb, tapi takut kamu marah.”, Rain menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“gapapa aku gak marah”, jawab Nadd cepat.
Rain tersenyum mendengarnya.
“Yaudah pulangnya hati-hati yah. Aku anter sampe depan sekolahan. Kalo ada apa apa di jalan kamu telpon aku” kata Rain sambil memasangkan helm ke kepala Naddine seperti kebiasaan mereka dulu.
Naddine menjawab dengan mengangguk pelan.
Naddine pun pulang dengan diikuti Rain di belakangnya, tapi Rain hanya mengikutinya sampai depan gerbang sekolah. Ia berbelok ke dalam sekolah setelah sebelumnya membunyikan klakson dan berteriak “hati-hati bawa motornya”.
Naddine tersenyum pedih melihatnya dari kaca spion. Ia dan Rain kita bukan lagi sepasang kekasih. Niatnya untuk memohon pada Rain hari ini pupus, ia malah menyetujui permintaan Rain untuk putus dan namun tetap bisa bersama. Naddine tidak bisa menepati keinginan Rain untuk tidak menangis lagi, karena kenyataannya sekarang Naddine mengendarai motornya pulang dengan mata bercucuran air mata. Dia menangis di sepanjang jalan sampai ke rumahnya.
Wednesday, March 29, 2017
Tuesday, March 28, 2017
FLASHBACK 1 - NADD VS RAIN (NADDINE)
Flashback..
Naddine merasa cemas sekali karena
Rain tiba-tiba tidak membalas SMSnya sejak tadi. Padahal tadi mereka masih
ber-SMSan ria.
“Rain, kamu kemana sih?”, cemas
Nadd.
Setelah menunggu beberapa lama, ia
memutuskan untuk membuka game yang
sering ia dan Rain mainkan bersama. Mungkin ia bisa menemukan Rain sedang online. Namun ternyata tidak, dia tidak
menemukan Rain. Akun rain terakhir kali aktif 22 menit yang lalu. Hmm.. main
game bisa, bales SMS engga bisa, pikir Nadd.
Sambil menunggu balasan SMS dari
Rain, Naddine membuka aplikasi BBM nya untuk sekedar mengecek beranda dan chat
masuk. Naddine melihat perubahan foto profil seseorang beberapa menit yang lalu
di beranda BBM nya. Yap, Rain Vhanderson. Laki-laki yang sejak tadi ia cemaskan
dan tunggu kabarnya. Akhirnya Nadd memutuskan untuk mengechat Rain di BBM.
Naddine deO : Beb, kok ga bales sms gue? (ya mereka
memang biasa ber-elu gue, mereka merasa bebas memanggil apa aja pada
pasangannya)
Rain Vha : Hape abis batere (bbm, line,
dan game memang di letakkan Rain di
tabletny, jadi hape hanya khusus untuk SMS dan telpon.
Naddine deO : Kok ga ngechat
sekedar ngasih tau? Gue nungguin kabar lu daritadi tau beb
Rain Vha : Sorry, gue baru
pulang abis nemenin sepupu jalan tadi keliling kota.
Naddine deO : Hmm.. Sekedar
ngabarin doang aja gak bisa. Gak sampe 5 menit padahal.
Tapi ngegame bisa, ganti foto
profil bisa.
Rain Vha : Apaan sih lu, gue
capek tau baru pulang. Udah marah2 aja
Naddine deO : Ya abis gue sebel.
Dari tadi gue kayak orang bego
nungguin balesan SMS lu.
Lu tiba-tiba ilang gimana gue ga cemas coba.
Hmmm… Apa salahnya ngabarin dulu
sebelum ngegame
Rain Vha : Sorry
Naddine deO : Sorry doang? Cuma 5
huruf?
Rain Vha : Mau apa lagi?
Udah ah gue capek
(read)
Naddine merasa sangat kesal, bahkan
marah. Lebih penting kah game daripada sekedar memberi kabar padanya? Kalo
masalah capek, Nadd juga sedang capek sebenernya. Saat ia berSMS ria tadi
dengan Rain sebenarnya ia sedang membantu orangtuanya mengangkat isi barang dan
lemari lama yang ada di dalam rumah keluar dan mengangkat lemari baru kemudian
menyusun kembali barang di dalamnya. Di sela-sela mengangkat barang ia masih
menyempatkan diri untuk membalas SMS dari Rain. Sebenarnya apa yang salah
sampai Rain tiba-tiba bersikap menyebalkan seperti itu. Padahal selama ini ia
tidak pernah mengekang Rain. Rain bebas main game kapan pun ia mau, bahkan saat mereka sedang ngedate pun lebih sering dihabiskan
dengan ngegame bersama. Rain juga
bebas mau pergi kemanapun dan sama siapapun, sama teman wanita pun boleh,
dengan syarat ia harus memberitahu Naddine jika ia pergi dengan siapapun itu
dan tahu diri dan sikap. Nadd juga tidak mewajibkan Rain untuk selalu standby
setiap detik untuknya.
Ia kecewa. Padahal Rain bisa
sekedar nge-chat untuk memberitahu
bahwa hapenya abis batere dan besok saja lanjutkan ngobrolnya. Naddine tidak
akan marah atau ngambek hanya karena itu.
Naddine tidak akan marah dikala Rain mengatakan bahwa ia tidak bisa sms
atau telpon dikarenakan ia sibuk, ia tidak ada pulsa, ia sedang di luar, ia
capek, tidak ingin diganggu atau apapun itu. Asal ada kabar, asal diberitahu.
Tidak hilang tiba-tiba tapi bisa online
game, bisa update medsos.
Ia berniat tidak akan membalas BBM
Rain, hanya untuk melihat apakah Rain merasa menyesal. Sebenernya ia belum
pernah bersikap seperti itu, biasanya ketika mereka bertengkar, Nadd akan
mengalah, meminta maaf, mereka akan langsung baikan dan melupakan semua yang
terjadi. Tapi kali ini Nadd meninggikan sedikit ego-nya. Ia lelah jika harus
mengalah terus. Sudah 10 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda notif dari
Rain lagi, ia memutuskan untuk mematikan handphone nya agar matanya tidak
terus-terusan melirik untuk melihat apakah ada chat lagi dari Rain. Dia
memutuskan untuk tidur, agar tidak kepikiran.
Esok paginya, ia bangun dan
langsung menghidupkan kembali hapenya. Ia berharap ada notif chat atau SMS dari
Rain. Ternyata harapannya hancur. Tidak ada sedikitpun kabar dari Rain. Naddine
berusaha bersikap biasa saja. Ia berniat mendiamkan Rain dan tidak
menghubunginya terlebih dahulu seperti saran dari sahabatnya Vian.
Tiga hari sudah Naddine dan Rain
tidak saling memberi kabar. Mereka juga tidak bertemu karena jadwal kuliah
mereka libur. Naddine sudah tidak bisa lagi menahan rasa rindunya. Dengan
mengabaikan segala egonya, ia pun memberanikan diri untuk ngechat Rain duluan.
Naddine deO : Beb..
Maafin aku ya beb buat yang kemaren2. Aku minta
maaf ya beb
Jangan marah lagi ya, kita baikan yah J
Aku kangen beb..
Beberapa selang waktu, chat Naddine
tidak juga diread oleh Rain. Status
chat bbm nya masih deliv belum
berubah jadi read. Naddine kembali
mengetikkan pesan di bbmnya…
Naddine deO : Beb, kok ga read2? Sengaja yah, kamu masih marah ya?
Jangan marah dong sayang, maafin aku ya beb..
Naddine deO : Bales dong bebeb aR.. (aR nama panggilan sayang
yang Naddine untuk nama Rain yang berinisial RV atau aRVi)
Naddine geram sendiri melihat
chatnya tak kunjung berubah dari D menjadi R. Dia pun memutuskan bertanya pada
adiknya Rain.
Naddine deO : dek, kak Rain lagi ngapain yah? Kok chat kakak gak di
bales2 yah..
Rika MD : kak Rain lagi
tidur kak, kecapekan dia abis dari sekolah Rika tadi.
Naddine deO : Ohya, kak Rain nya
PPL ngajar di sekolah Rika yah.
Enak dong bisa diajarin kak Rain
Rika MD : Hehe.. Tapi kak
Rain nya gak ngajar kelas adek kak.. dia ngajar kelas lain
Naddine deO : Oh gitu toh.. eh ya,
kak Rain udah lama tidurnya dek?
Emangnya dia tadi pulang jam berapa?
Rika MD : Iya kak dia tidur
dari tadi pulang sekolah. Pulang jam 3 kak tadi..
Naddine deO : Wah udah lama ya.
Kecapekan banget kayaknya dia
Rika MD : send a picture
Tuh kak hahaha, dia aja tidur
nyenyak banget sampe mangap gitu
Naddine melihat foto yang dikirim
adik Rain. Ia tersenyum geli melihat wajah pacarnya saat tidur. Jelek banget
haha, pikir Nadd. Berarti dia daritadi bukan sengaja gak bales karena marah,
tapi karena tidur. Huhh syukurlah, batin Nadd lagi.
Naddine deO : Hahaha.. ih kamu dek
iseng aja, Awas nanti ketahuan dia marah loh..
Rika MD : Kakak jangan
bilang2 kak Rain ya kalo aku tadi foto dia dan kirim ke kakak
Naddine deO : Tenang aja gak akan
kakak bilangin kok
Rika MD : Hehe iya kak. Nah
itu kak Rainnya udah bangun kak..
Naddine deO : Yaudah kalo udah
bangun, makasih ya dek J
Rika MD : Iya, sama2 kak.
Naddine tersenyum tipis saat
chatnya sudah berubah dari D menjadi R. Namun belum ada tanda-tanda balasan
dari Rain.
Selang beberapa menit berikutnya,
hape Nadd berbunyi. Ada notif masuk dari Rain.
Rain Vha : Gapapa..
Makasih ya udah nemenin hari-hari aku dari
setahun yang lalu.
Makasih udah sayangin aku. Makasih udah buat
aku bahagia.
Kita putus aja ya, aku gak bisa lagi lanjutin
hubungan kita.
Makasih ya buat semuanya Nadd J
Degg.. Dunia terasa runtuh saat Nadd membaca balasan dari Rain.
Naddine deO : Hah? Beb kamu kenapa,
kamu ngomong apa sih?
Rain Vha : Aku mau kita
putus Nadd..
Naddine deO : Kenapa? Apa salah aku
beb? Aku minta maaf soal yang kemarin beb.. T.T
Rain Vha : Gapapa. Aku cuma
bakal sibuk aja mulai sekarang.
Karena aku
udah mulai PPL hari ini, dan aku dipercaya jadi ketua.
Aku sibuk
ngurus ini itu dan ngajar di sekolah
Naddine deO : Loh, kan aku gak
pernah ngelarang kamu dengan segala kesibukan mu.
Aku ngerti beb, kan aku juga udah pernah dulu PPL.
Selama aku PPL juga kita masih nyempetin ketemu dan jalan bareng kan?
Aku gapapa kok sama sibuknya kamu, aku terima.
Sekedar ada
kabar dari kamu beb..
Rain Vha : Pokoknya aku ga
bisa lagi, makasih ya.. J
Naddine deO : Jangan gitu dong beb,
maafin aku T.T aku sayang banget sama kamu Rain..
Maafin aku, ku mohon. Kita baikan yah
(read)
Naddine deO : Rain.. Beb.. Maafin
aku yah sayang.. aku janji gak bakal ganggu kesibukan kamu
(read)
Naddine deO : Beb bales dong beb..
maafin aku beb L
(read)
Naddine deO : Aku mohon… Salah aku
apa?
Kamu enggak inget sama semua yang udah kita
lakuin? Aku sayang kamu beb..
Aku sayang banget sama kamu Rain
(read)
Naddine deO : Beb? Salah aku apa?
Maafin beb.. aku gatau lg mau ngomong apa.
Senggaknya kasih tau salah aku apa, biar bisa aku ubah beb.
Ga usah make
putus yah?
(read)
Saat Naddine mulai mengetik
kembali, Rain men-delcont kontak
BBMnya.
Naddine makin stress. Kontak BBM di
delcont, SMS-Line tidak di balas, telpon pun terus direject Rain. Dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya,
tangisnya pun pecah, dia menangis pelan agar tidak ada yang tau bahwa ia sedang
menangis. Ia tidak mau orangtuanya tau. Dia menekuk kakinya, memeluk kakinya
dan menenggelamkan kepalanya. Menangis menumpahkan seluruh perih dihatinya. Dia
tidak mengerti, sama sekali tidak menyangka bahwa Rain akan memutuskan hubungan
denganya malam itu.
Naddine kembali mengambil hapenya
dan mulai mengetik chat kembali ke adiknya Rain.
Naddine deO : Dek. Tolong minta
Rain angkat telponnya dong
Rika MD : Kak Rain nya diem
aja kak
Naddine deO : Tolong dek.. L
(read)
Namun setelah chat itu di read kontak BBM Rika juga hilang dari
BBMnya. Dia kembali didelcont. Naddine
yakin sekali pasti yang menghapus kontak BBMnya dari hape Rika adalah Rain.
Sungguh
tega, sungguh jahat kamu Rain, tangis Naddine.
jangan lupa buat download aplikasi wattpad dan baca cerita Naddine da cerita lainnya di sana! XD
-deRose-
to be continue...
Awal (Naddine)
Ican : Nadd
kita cere (cerai) aja yah
Naddine :
Oh oke yaudah
Ican :
Makasih ya Nadd buat waktu nya selama ini, kita tetep temenan kan?
Naddine :
Sama2. Iya
(read)
Entah kenapa rasanya hati Nadd
sakit banget kala itu. Walau sebenernya dia dan Ican hanya pasangan (couple) di salah satu game mobile
online. Bahkan air matanya sampe menetes jatuh membasahi pipinya, beruntung dia
saat ini sedang berada di salah satu sudut perpustakaan yang cukup sepi sehingga
tidak ada yang menyadari bahwa ada seorang gadis yang sedang menangis di dalam
ruangan itu. Naddine menangis dalam diam. Hatinya terasa sakit, perih sekali.
Bukan karena dia telah jatuh hati sama couple
game-nya itu, melainkan karena Ican
lah yang beberapa bulan belakangan selalu mengisi hari-harinya yang sepi, yang
selalu mengajaknya bicara walau hanya via
chat line. Setidaknya Ican lah membuat hari Nadd sedikit berwarna semenjak
hubungannya dengan Rain renggang.
T’E Grup
Naddine : Gue izin out yah dari sini. Udah ga ada niat main lagi. Char
gue kick aja dr club, gapapa kok J
*Naddine Left Grup*
Setelah mengetikkan kalimat
perpisahan ia menaruh hapenya di sampingnya. Mengabaikan semua chat yang masuk.
Dia hanya duduk diam, menahan sakit hatinya sambil sesekali menghapus air
matanya dengan tissue yang selalu ada di dalam tasnya.
“kenapa semuanya ninggalin gue sih,
salah gue apa”, batin Naddine.
Ia sebenernya sudah merasakan
gelagak tidak baik dari Ican beberapa hari sebelumnya. Ican yang selalu menemaninya
chatting dan ngegame beberapa hari belakang menjadi seperti menjauh darinya. Ia
bahkan tidak tau apa sebabnya Ican seperti itu. Dia berpikir apa ada yang salah
dari dirinya selama ini, tapi ia tetap tidak mengerti dan merasa ada kesalahan
yang terjadi di antara mereka. Setelah merasa lebih baik, Naddine mengecek
notif line hapenya lagi.
Meymey : Nadd kok left grup say ? Whats wrong ?
Naddine : Gapapa kok Mey J Gue ga ada waktu lagi buat mainnya, ga ada niat lagi. Hehe..
Sorry ya
gue out. Kick aja char gue Mey.
Meymey : Kenapa sih say? Gara-gara
Ican yah?
Naddine : Gak kok. Gapapa, beneran deh Mey J
Meymey : Hmm, yaudah.. Tapi kalo mau masuk lagi PM aja yah beb
Naddine : Oke beb J
Jangan heran kalo Ican tidak
bertanya kenapa dia keluar dari grup chat itu. Bukan karena Ican sudah tidak
perduli lagi sejak dia memutuskan hubungan couple
itu. Tapi karena kontak line dan bbm
Ican sudah di delcont dan blokir oleh
Nadd, jadi seluruh chat yang Ican kirim tidak ada satu pun yang akan masuk ke
kontak Nadd. Sebegitu sakit, kecewa, dan marahnya Naddine terhadap Ican.
Naddine pun membereskan semua buku dan barangnya, lalu bangkit dari duduknya.
Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena percuma ia ada di sana, tujuannya
ke perpustakaan daerah adalah untuk mengetik proposal skripsinya. Tapi karena
“kejutan kecil” dari Ican, seluruh mood
dan fokus Nadd menjadi hilang tak bersisa. Tanpa mampir ke sana-sini ia
langsung pulang menuju rumahnya yang lumayan jauh dari tempatnya biasa
“nongkrong”.
Sebenarnya perpustakaan daerah
adalah salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama Rain. Naddine
dan Rain seringkali menghabiskan waktu di tempat itu. Bukan karena mereka kutu
buku. Nadd memang suka baca buku, tapi percayalah buku yang ada di perpustakaan
itu kebanyakan buku-buku lama yang tidak menarik dan tidak berkaitan dengan
kuliah mereka. Tapi mereka betah berlama-lama di dalam sana karena, selain
karena bisa numpang duduk, tempatnya nyaman dilengkapi dengan AC, colokan, dan
wifi gratis. Kurang nikmat apa coba bagi mahasiswa seperti mereka?
Naddine masih betah kembali ke
tempat itu, walau ia harus berusaha menghalaukan pikiran yang berisi kenangan
di setiap tempat yang pernah ia lewati bersama Rain, walau ia harus datang
sendirian sekarang ke tempat itu. Terkadang Nadd bahkan takut kalo saja bertemu
dengan Rain di dalam, ia tak tahu harus bersikap bagaimana jika hal itu
terjadi. Naddine sebenernya tidak kuper-kuper
amat. Ia tau tempat-tempat yang bisa ia datangi dengan fasilitas sama seperti
di perpus. Hanya saja ia terlalu takut untuk datang ke tempat tempat baru,
tempat yang belum pernah ia datangi. Naddine memang seperti itu J
Sesampainya ia dirumah, ia kembali
mengecek notif linenya. Dahinya berkerut
kala heran menemukan nama seseorang yang tidak pernah meng-private chatnya, walau sebenernya ia sudah seringkali mengobrol
dengan lelaki itu walau hanya di grup chat dan chat game.
Octaf : Hai
Nadd J
Naddine : Hai juga ta, tumben ngechat?
Octaf : Emang ga boleh ya? Hehe
Naddine : Boleh kok ta.. J
Octaf : Hehe.. Lu kenapa out dari grup Nadd?
Naddine : Hmmm.. gapapa kok ta. Males main lagi aja..
Octaf : Karena Ican minta cere ya?
Naddine : Kok lu tau kalo dia minta cere?
Octaf : Ican tadi ngomong di grup abis lu keluar.
Itu anak
anak gc (grup chat) pada nyalahin dia
sekarang
Naddine : Hmm.. Gue ga suka aja caranya ta. Udah ngejauh, terus tiba-tiba
ngechat minta cere.
Salah gue
apa coba?
Octaf : Sebenernya salah si Ican juga sih Nadd.
Jadi gini,
tadi dia nge-PM gue dia bilang dia minta cere karena dia mau couple-an
sama
pacarnya. Dia minta tolong gue buat sampein ke elu..
Naddine : Sejak kapan dia punya pacar? Gue baru tau. Perasaan dia jomblo.
Octaf : Katanya sih emang baru jadian..
Dia bego juga sih gak ngasih tau lu alasan
yang sebenarnya
Naddine : Iya, gue bingung. Dari kemaren2 ngejauh, terus datang ngechat
minta cere.
Salah gue dimana. Siapa yang ga sakit
hati coba?
Gue sampe
nangis tau di perpus tadi saking sakitnya hati gue.
Octaf : Duh, serius Nadd nangis? Ican minta maaf nih sama lu.
Katanya
dia udah PM lu, tapi kontak dia lu blokir, bbm dia lu delcont.
Naddine : Hooh. Iya gapapa bilang aja ta. Slow..
Octaf : Ok. Masuk lagi ke gc ya Nadd? Gue invite yah?
Naddine : Gak usah ta. Dah ga niat main lagi hehehe..
Gue main itu karena dia yang ngajak kok.
Sekarang gue udah males..
Octaf : Yah kok gitu sih Nadd.. Ga asyik ah. L
Naddine : Hehehe ya gitu ta. Males aja.. Udah gapapa kok ta J
Octaf : Yaudah deh Nadd.. Gue harap lu masih
bakal balik lagi nantinya
Naddine : Iya ntar gue balik kok
kalo udah mood main lagi.
Hmm.. Gue tidur dulu ya ta? Capek dan
ngantuk banget gue gara-gara nangis tadi.
Octaf : Oke deh, met istirahat Nadd. J
(read)
Naddine menghelas nafas setelah
membaca chat terakhir Octaf. “Ternyata disuruh si Ican toh”, batin Naddine.
Naddine mulai berfikir negative lagi
tentang dirinya. Dirinya yang selalu ditinggalkan oleh orang di sekitarnya.
Mulai dari pacar sampe temannya pun meninggalkannya.
Ia mengingat lagi kenangan-kenangan
yang dia lalui bersama Rain. Laki-laki yang sudah mengisi hatinya setahun
belakangan ini. Laki-laki yang mematahkan hatinya beberapa bulan lalu karena
secara tiba-tiba meminta putus lewat chat bbm. Hubungannya setelah putus memang
sempat awkward tapi selang beberapa
minggu mereka kembali akur lagi layaknya sepasang kekasih namun hanya sebatas
status “teman baik”. Mereka tetap pergi-pulang kampus bersama, pergi jalan
berdua, masih saling berkomunikasi lewat pesan SMS dan telepon walau tidak se-intens dulu. Teman-teman mereka pun
menyangka mereka balikan lagi. Tak
bisa dipungkiri juga kalo hati Nadd masih sangat mengingini Rain, masih sangat
menyayangi Rain. Naddine meyangka Rain pun seperti itu padanya. Namun setiap
Naddine menanyakan perihal status hubungan mereka lagi-lagi Rain menolak untuk
melanjutkan hubungan spesial mereka dan tetap kekeuh dengan status “teman baik”.
Naddine masih terus sabar
menghadapi Rain. Toh selama Rain masih berada di sampingnya itu sudah cukup
membuat dia bahagia. Beberapa kali sudah Naddine mencoba untuk menjebol
pertahanan gengsi Rain untuk balikan. Nadd merasa Rain terlalu gengsi, dikarena
dia pernah berjanji tidak akan pernah balikan sama mantannya, kecuali disetujui
oleh kakak angkatnya. Naddine benci jika terus mengingat hal itu, memangnya
kakak angkatnya yang akan menjalani hubungan? Pikir Nadd.
Pffttt…
Ia menghela
nafas panjang kala mengingat kenangan yang begitu pahit karena ia dan Rain
sekarang sudah kembali tidak akur lagi. Pertemuan terakhirnya dengan Rain pun
begitu sangat menyakitkan hatinya jika diingat. Naddine pun memejamkan mata
untuk menetralisir seluruh rasa marah, kecewa, sakit, dan lelahnya, hingga ia
terlelap..
Kalian bisa baca update-an cerita ini di aplikasi WATTPAD. Wattpad adalah aplikasi dimana kita bisa menyalurkan hobi, minat, atau bakat kalian di bidang tulis-menulis, Kalian bisa membuat cerita yang akan di baca banyak orang. Bisa jadi hanya jadi pembaca setia dari cerita-cerita yang dibuat orang lain.
Ayo download dan baca cerita-ceritanya, terutama cerita Naddine yah ^^
-deRose-
to be continue..
Subscribe to:
Posts (Atom)
