Tuesday, March 28, 2017

Awal (Naddine)

Ican        : Nadd kita cere (cerai) aja yah
Naddine : Oh oke yaudah
Ican        : Makasih ya Nadd buat waktu nya selama ini, kita tetep temenan kan?
Naddine : Sama2. Iya
(read)

Entah kenapa rasanya hati Nadd sakit banget kala itu. Walau sebenernya dia dan Ican hanya pasangan (couple) di salah satu game mobile online. Bahkan air matanya sampe menetes jatuh membasahi pipinya, beruntung dia saat ini sedang berada di salah satu sudut perpustakaan yang cukup sepi sehingga tidak ada yang menyadari bahwa ada seorang gadis yang sedang menangis di dalam ruangan itu. Naddine menangis dalam diam. Hatinya terasa sakit, perih sekali. Bukan karena dia telah jatuh hati sama couple game-nya itu, melainkan karena Ican lah yang beberapa bulan belakangan selalu mengisi hari-harinya yang sepi, yang selalu mengajaknya bicara walau hanya via chat line. Setidaknya Ican lah membuat hari Nadd sedikit berwarna semenjak hubungannya dengan Rain renggang.

T’E Grup
Naddine : Gue izin out yah dari sini. Udah ga ada niat main lagi. Char gue kick aja dr club, gapapa kok J
*Naddine Left Grup*

Setelah mengetikkan kalimat perpisahan ia menaruh hapenya di sampingnya. Mengabaikan semua chat yang masuk. Dia hanya duduk diam, menahan sakit hatinya sambil sesekali menghapus air matanya dengan tissue yang selalu ada di dalam tasnya.
“kenapa semuanya ninggalin gue sih, salah gue apa”, batin Naddine.
Ia sebenernya sudah merasakan gelagak tidak baik dari Ican beberapa hari sebelumnya. Ican yang selalu menemaninya chatting dan ngegame beberapa hari belakang menjadi seperti menjauh darinya. Ia bahkan tidak tau apa sebabnya Ican seperti itu. Dia berpikir apa ada yang salah dari dirinya selama ini, tapi ia tetap tidak mengerti dan merasa ada kesalahan yang terjadi di antara mereka. Setelah merasa lebih baik, Naddine mengecek notif line hapenya lagi.

Meymey : Nadd kok left grup say ? Whats wrong ?
Naddine : Gapapa kok Mey J Gue ga ada waktu lagi buat mainnya, ga ada niat lagi. Hehe..
      Sorry ya gue out. Kick aja char gue Mey.
Meymey : Kenapa sih say?  Gara-gara Ican yah?
Naddine : Gak kok. Gapapa, beneran deh Mey J
Meymey : Hmm, yaudah.. Tapi kalo mau masuk lagi PM aja yah beb
Naddine : Oke beb J

Jangan heran kalo Ican tidak bertanya kenapa dia keluar dari grup chat itu. Bukan karena Ican sudah tidak perduli lagi sejak dia memutuskan hubungan couple itu. Tapi karena kontak line dan bbm Ican sudah di delcont dan blokir oleh Nadd, jadi seluruh chat yang Ican kirim tidak ada satu pun yang akan masuk ke kontak Nadd. Sebegitu sakit, kecewa, dan marahnya Naddine terhadap Ican. Naddine pun membereskan semua buku dan barangnya, lalu bangkit dari duduknya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena percuma ia ada di sana, tujuannya ke perpustakaan daerah adalah untuk mengetik proposal skripsinya. Tapi karena “kejutan kecil” dari Ican, seluruh mood dan fokus Nadd menjadi hilang tak bersisa. Tanpa mampir ke sana-sini ia langsung pulang menuju rumahnya yang lumayan jauh dari tempatnya biasa “nongkrong”.
Sebenarnya perpustakaan daerah adalah salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama Rain. Naddine dan Rain seringkali menghabiskan waktu di tempat itu. Bukan karena mereka kutu buku. Nadd memang suka baca buku, tapi percayalah buku yang ada di perpustakaan itu kebanyakan buku-buku lama yang tidak menarik dan tidak berkaitan dengan kuliah mereka. Tapi mereka betah berlama-lama di dalam sana karena, selain karena bisa numpang duduk, tempatnya nyaman dilengkapi dengan AC, colokan, dan wifi gratis. Kurang nikmat apa coba bagi mahasiswa seperti mereka?
Naddine masih betah kembali ke tempat itu, walau ia harus berusaha menghalaukan pikiran yang berisi kenangan di setiap tempat yang pernah ia lewati bersama Rain, walau ia harus datang sendirian sekarang ke tempat itu. Terkadang Nadd bahkan takut kalo saja bertemu dengan Rain di dalam, ia tak tahu harus bersikap bagaimana jika hal itu terjadi. Naddine sebenernya tidak kuper-kuper amat. Ia tau tempat-tempat yang bisa ia datangi dengan fasilitas sama seperti di perpus. Hanya saja ia terlalu takut untuk datang ke tempat tempat baru, tempat yang belum pernah ia datangi. Naddine memang seperti itu J

Sesampainya ia dirumah, ia kembali mengecek notif linenya. Dahinya berkerut kala heran menemukan nama seseorang yang tidak pernah meng-private chat­nya, walau sebenernya ia sudah seringkali mengobrol dengan lelaki itu walau hanya di grup chat dan chat game.
Octaf      : Hai Nadd J
Naddine : Hai juga ta, tumben ngechat?
Octaf      : Emang ga boleh ya? Hehe
Naddine : Boleh kok ta.. J
Octaf      : Hehe.. Lu kenapa out dari grup Nadd?
Naddine : Hmmm.. gapapa kok ta. Males main lagi aja..
Octaf      : Karena Ican minta cere ya?
Naddine : Kok lu tau kalo dia minta cere?
Octaf      : Ican tadi ngomong di grup abis lu keluar.
     Itu anak anak gc (grup chat)  pada nyalahin dia sekarang
Naddine : Hmm.. Gue ga suka aja caranya ta. Udah ngejauh, terus tiba-tiba ngechat minta cere.
     Salah gue apa coba?
Octaf      : Sebenernya salah si Ican juga sih Nadd.
     Jadi gini, tadi dia nge-PM gue dia bilang dia minta cere karena dia mau couple­-an
     sama pacarnya. Dia minta tolong gue buat sampein ke elu..
Naddine : Sejak kapan dia punya pacar? Gue baru tau. Perasaan dia jomblo.
Octaf       : Katanya sih emang baru jadian..
      Dia bego juga sih gak ngasih tau lu alasan yang sebenarnya
Naddine : Iya, gue bingung. Dari kemaren2 ngejauh, terus datang ngechat minta cere.
                  Salah gue dimana. Siapa yang ga sakit hati coba?
      Gue sampe nangis tau di perpus tadi saking sakitnya hati gue.
Octaf       : Duh, serius Nadd nangis?  Ican minta maaf nih sama lu.
      Katanya dia udah PM lu, tapi kontak dia lu blokir, bbm dia lu delcont.
Naddine : Hooh. Iya gapapa bilang aja ta. Slow..
Octaf      : Ok. Masuk lagi ke gc ya Nadd? Gue invite yah?
Naddine : Gak usah ta. Dah ga niat main lagi hehehe..
                  Gue main itu karena dia yang ngajak kok. Sekarang gue udah males..
Octaf       : Yah kok gitu sih Nadd.. Ga asyik ah. L
Naddine : Hehehe ya gitu ta. Males aja.. Udah gapapa kok ta J
Octaf       : Yaudah deh Nadd.. Gue harap lu masih bakal balik lagi nantinya
Naddine  : Iya ntar gue balik kok kalo udah mood main lagi.
                   Hmm.. Gue tidur dulu ya ta? Capek dan ngantuk banget gue gara-gara nangis tadi.
Octaf       : Oke deh, met istirahat Nadd. J
(read)

Naddine menghelas nafas setelah membaca chat terakhir Octaf. “Ternyata disuruh si Ican toh”, batin Naddine. Naddine mulai berfikir negative lagi tentang dirinya. Dirinya yang selalu ditinggalkan oleh orang di sekitarnya. Mulai dari pacar sampe temannya pun meninggalkannya.
Ia mengingat lagi kenangan-kenangan yang dia lalui bersama Rain. Laki-laki yang sudah mengisi hatinya setahun belakangan ini. Laki-laki yang mematahkan hatinya beberapa bulan lalu karena secara tiba-tiba meminta putus lewat chat bbm. Hubungannya setelah putus memang sempat awkward tapi selang beberapa minggu mereka kembali akur lagi layaknya sepasang kekasih namun hanya sebatas status “teman baik”. Mereka tetap pergi-pulang kampus bersama, pergi jalan berdua, masih saling berkomunikasi lewat pesan SMS dan telepon walau tidak se-intens dulu. Teman-teman mereka pun menyangka mereka balikan lagi. Tak bisa dipungkiri juga kalo hati Nadd masih sangat mengingini Rain, masih sangat menyayangi Rain. Naddine meyangka Rain pun seperti itu padanya. Namun setiap Naddine menanyakan perihal status hubungan mereka lagi-lagi Rain menolak untuk melanjutkan hubungan spesial mereka dan tetap kekeuh dengan status “teman baik”.
Naddine masih terus sabar menghadapi Rain. Toh selama Rain masih berada di sampingnya itu sudah cukup membuat dia bahagia. Beberapa kali sudah Naddine mencoba untuk menjebol pertahanan gengsi Rain untuk balikan. Nadd merasa Rain terlalu gengsi, dikarena dia pernah berjanji tidak akan pernah balikan sama mantannya, kecuali disetujui oleh kakak angkatnya. Naddine benci jika terus mengingat hal itu, memangnya kakak angkatnya yang akan menjalani hubungan? Pikir Nadd.
Pffttt…

Ia menghela nafas panjang kala mengingat kenangan yang begitu pahit karena ia dan Rain sekarang sudah kembali tidak akur lagi. Pertemuan terakhirnya dengan Rain pun begitu sangat menyakitkan hatinya jika diingat. Naddine pun memejamkan mata untuk menetralisir seluruh rasa marah, kecewa, sakit, dan lelahnya, hingga ia terlelap..





Kalian bisa baca update-an cerita ini di aplikasi WATTPAD. Wattpad adalah aplikasi dimana kita bisa menyalurkan hobi, minat, atau bakat kalian di bidang tulis-menulis, Kalian bisa membuat cerita yang akan di baca banyak orang. Bisa jadi hanya jadi pembaca setia dari cerita-cerita yang dibuat orang lain. 
Ayo download dan baca cerita-ceritanya, terutama cerita Naddine yah ^^
-deRose-


to be continue..

No comments:

Post a Comment