Naddine terbangun. Dia menangis hingga terlelap tidur. Matanya bengkak, sembab. Ia bangkit ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Saat kembali ke kamar dan melihat wajahnya dikaca. Ternyata cuci muka tidak bisa menyamarkan mata bengkak dan kesedihannya. Dia kembali teringat bahwa kemarin malam Rain memutuskan hubungan mereka. Naddine mengecek hapenya, itu bukan mimpi. Itu kenyataan. Air mata kembali menetes dari mata Naddine. Dadanya sesak, hatinya sakit terkoyak-koyak rasanya. Dia harus menghadapi kenyataan itu mulai hari ini. Di setiap bangun dari tidur ia sadar bahwa itu bukan hanya sekedar mimpi buruk melainkan kenyataan buruk yang bahkan tidak pernah dibayangkannya. Dia tidak nafsu makan, tidak nafsu bergerak. Dia hanya diam mengurung diri di kamar. Adiknya bingung dengan perubahan kakaknya itu. Mama Naddine juga menyadari sikap anak pertamanya, namun saat ia bertanya pada Naddine, Naddine hanya berkata tidak apa-apa.
Sudah lima hari Naddine tidak makan dan murung. Tubuhnya makin terlihat lunglai dan kurus. Dia terus saja menahan rasa lapar yang menerpa sampai perutnya sakit karena tidak mendapat asupan apapun kecuali air putih. Naddine terus menyiksa dirinya, bahkan ia mempunyai sejuta ide jahat dipikirannya. Ia ingin menyakiti dirinya sendiri, ia ingin pergi dari rumah, ia bahkan ingin membunuh dirinya sendiri.
Teman-teman dekatnya sudah tau kalau hubungan Naddine dan Rain sudah berakhir. Mereka sebenarnya kaget setelah tau. Karena pasangan itu adalah pasangan yang selalu terlihat akur, mesra, kompak, bahkan tidak pernah terdengar bahwa mereka sedang bertengkar, dan kini tibatiba saja mereka putus. Sungguh disayangkan. Namun beberapa dari mereka juga paham ketika mendengar kabar putus, karena menurut mereka pasangan itu memiliki perbedaan yang sulit untuk disatukan. Ya, mereka berbeda keyakinan. Satu hal mutlak yang sangat sulit untuk disatukan kecuali jika ada satu diantaranya yang mengalah.
Naddine mendapatkan beberapa saran dari temannya. Ia sudah mandi dan bersiap pergi. Dia berniat untuk menemui Rain. Dia pergi ke arah rumah Rain. Sesampainya di dekat rumah Rain, ia berhenti di depan ruko di pinggir jalan depang gang rumah Rain. Naddine tidak berani ke rumah Rain karena biasanya jam segitu orangtua Rain sudah berada di rumah. Naddine juga tidak tau apakah Rain ada di rumah atau di sekolah tempat dia mengajar yang letaknya memang dekat dari rumahnya. Maka itu Naddine memutuskan meminta bantuan seorang temannya..
Naddine deO : Ndra, can you help me?
Andra Tanoe : Uit, napa Nadd?
Naddine deO : Lu masih temenan sama Rain kan di BBM?
Andra Tanoe : Masih, why?
Naddine deO : Tolong dong Ndra, bbm-in dia.
Bilangin ke dia, kalo gue tunggu dia di depan gang rumahnya, tempat biasa.
Gue bakal tunggu disini sampe dia datang nemuin gue, ga perduli mau sampe kapan.
Andra Tanoe : Gilaaaaa! Lu nekat amat cuy!
Naddine deO : Please, Ndra. Tolongin gue. Gue ga bisa bbm dia.
Andra Tanoe : Ok2. Gue bbmin. Lu mau sampe kapan nungguin dia?
Naddine deO : Thanks ya Ndra. Sampe dia kesini
Andra Tanoe : Nadd, mending lu balik deh. Dia bilang dia sibuk, gak mau nemuin lu juga.
Naddine deO : Yaudah bilang aja, kerjain aja dulu kesibukan dia. Kalo udah baru temuin gue.
Andra Tanoe : Ah, gila amat sih lu Nadd! Nekat amat.
Naddine deO : Gue sayang banget banget sama dia Ndra
Andra Tanoe : Iyaiya udah gue bilang ke dia tuh. Kalo sore dia belum datang lu balik ya Nadd.
Naddine deO : Hmm. Liat nanti Ndra.
Naddine memasukkan hapenya ke dalam tasnya ketika melihat motor byson biru mendekat padanya. Rain datang..
“Mau apa?”, tanya Rain dengan muka datar.
“Maafin aku beb..”, jawab Naddine dengan tatapan sedih
“Kamu ga salah apa-apa. Udah pulang sana, aku lagi sibuk. Ini aja aku harus nemuin dosen”
“Yaudah kamu kelarin dulu aja kesibukan kamu. Aku tunggu di sini aja. Aku gak akan ganggu kamu kok”
Rain naik ke atas motornya dan melesat pergi meninggalkan Naddine tanpa berkata apa pun.
Naddine menatap nanar motor yang terus melaju hingga tak terlihat lagi. Naddine menunduk, menenggelamkan kepalanya di stang motor. Air matanya menetes lagi. Sakit… Itu yang dirasakan Naddine. Dia tidak memperdulikan tatapan orang, cibiran orang, dan godaan orang yang melihatnya di pinggir jalan.
(RAIN POV) Rain menatap dari jauh gadis yang kini menunduk menyenderkan kepalanya di stang motornya. Rain yakin gadis itu pasti menangis lagi. Sebenarnya, Rain tidak tega saat melihat Naddine begitu rapuh seperti tadi. Matanya sembab, wajahnya sedih. Senyum yang selalu ada untuknya kini menghilang. Ini semua memang salahnya. Hal ini lah yang membuat ia tidak ingin menemui Naddine, ia tidak kuat melihat gadisnya sedih. Sedih karenanya. Rain pun memutuskan untuk kembali, ia tau betul bahwa Naddine akan terus ada di sana mungkin sampai malam kalau ia tidak menemuinya.
Naddine mendongkan kepala saat ia mendengar suara motor yang sangat ia kenal mendekat lagi. Rain datang lagi.
“Ayo ikut aku, jangan ngomong disini, engga enak dilihat banyak orang”, kata Rain tanpa turun dari motor. Hanya melepas helm nya saja.
“kemana?” “udah ikutin aja aku”
Naddine mengikuti arah motor Rain pergi. Tidak jauh dari tempat mereka tadi, melewati sekolahan tempat Rain mengajar. Mereka berhenti dipinggir jalan sepi. Rain turun dari motor dan melepas helmnya, begitu juga dengan Naddine.
“kenapa?”, tanya Rain.
“kenapa kamu mutusin aku?”, Naddine balik bertanya.
“kemaren kan udah aku bilang sama kamu, aku bakal sibuk”, Rain menjawab dengan muka datar.
“apa selama ini aku menghalangi kesibukan kamu? Enggak kan, kamu bebas mau kemana aja, ngapain aja, sama siapa aja, selama di batas wajar.”, Naddine menatap mata Rain dalam, seolah berkata, bener kan yang aku bilang
“maafin aku, tapi kita tetep harus putus. Udah ya aku udah dicariin nih”, kata Rain seolah tidak perduli dengan tatapan Nadd, ia terus saja menatap layar hapenya. Semenjak putus dari Nadd, ia memindahkan aplikasi BBMnya ke hape agar lebih mudah berkomunikasi dengan grup PPLnya di bbm, karena jika di tablet akan sangat ribet karena ia harus bawa tablet kemana pun ia pergi.
Naddine emosi, dia merampas hape Rain. Padahal selama ini untuk memegang hape Rain saja dia takut, takut Rain menganggapnya terlalu posesif dan tidak percaya kepadanya. Rain yang melihat hal itu ikut emosi
“apaan-apaan sih kamu”, mengambil paksa hapenya kembali dari tangan Nadd.
“kamu juga terus-terusan ngelihat hape. Lebih penting chat itu daripada aku?
“okeoke.”, Rain memasukkan hapenya ke dalam saku bajunya.
“salah aku apa beb? Bilang salah aku apa, biar aku perbaiki.”
“engga ada. Kamu tau kan kita itu beda, ujung-ujungnya juga kita bakal putus. Jadi buat apa menunda hal menyakitkan itu lagi?”, kata Rain dengan satu tarikan nafas.
“aku mau, aku rela pindah agama ikut kamu”, jawaban Naddine membuat Rain tersentak. Rahangnya mengeras.
“gak bisa.. susah. Selain itu kamu tau kan orangtua aku gak suka sama kamu? Aku capek harus denger kamu dihina-hina mereka terus, aku gak perduli kalau mereka itu hina aku, tapi hati aku sakit kalo kamu yang digituin”, jujur Rain.
“iya aku tau, aku enggak kayak yang di inginkan orangtuamu. Aku kurus, penyakitan. Aku juga bukan orang kaya, aku orang susah. Tapi semua itu bisa berubah kan? Kamu tau, kamu orang pertama yang berhasil buat berat badan aku naik. Kamu juga tau, nasib dan hidup seseorang itu
bisa berubah, aku juga bisa sukses nantinya. Aku bukan tipe perempuan yang kerjaannya hanya duduk anteng di rumah, aku pekerja keras, kamu kan tahu semua itu. Lagian aku gak perduli sama hinaan mereka, kamu cuma perlu tutup kuping dan bersikap masa bodoh. Jangan dimasukin ke hati. Aku gapapa.”
Rain terdiam mendengarnya. Dia bahkan tidak berani menatap mata Naddine yang sedari tadi terus menatap ke arahnya. Dia tahu, dia sungguh tahu. Tapi Rain sudah mengambil keputusan.
“maafin aku Nadd. Aku tetep gak bisa.. maafin aku. Aku gak bisa nerusin hubungan ini. Aku mau fokus sama hidup aku. Kita masih bisa temenan kayak dulu. Aku bisa jadi apapun yang kamu mau, jadi temen, sehabat, adek-kakak, apa pun itu. Tapi aku enggak bisa jadi pacar kamu lagi. Cukup udah, jangan menunda lagi kata pisah. Aku gak mau kalo ditunda lagi nanti adanya kita semakin tersakiti Nadd. Malah akan timbul benci.”
Naddine tidak bisa menahan air matanya. Ia jongkok menekuk lututnya membenamkan wajah dan
kepalanya. Air matanya terus meleleh mengalir membasahi pipi dan bajunya. Rasanya tidak sanggup Rain melihatnya, ingin sekali ia memeluk gadis yang berjongkok di sampingnya itu.
“terus aku harus gimana lagi? Aku harus ngelakuin apa lagi biar kamu gak putusin aku?, Naddine pasrah
“kamu enggak perlu ngapa-ngapain. Cukup bersikap kayak biasa kita dulu. Kita tetep bisa deket kok.”, Rain akhirnya mengalah. Sejujurnya ia juga tidak tahu kuat atau tidak jika harus berdiam diri terus menerus dengan Naddine.
“aku minta tolong kamu ngertiin aku yah. Kita masih bisa chat kok, sms, telpon, pergi bareng berdua. Tapi enggak sebagai pacar.”, tambahnya lagi
Naddine bangkit berdiri menatap Rain sendu.
“jangan nangis lagi yah.”, kata Rain lagi sambil menyeka air mata Nadd dengan jari-jari tangannya.
“Tapi jangan tinggalin aku yah.. kamu tau kan semua yang udah kita lakuin itu berharga buat aku. Maafin aku buat salah aku selama jadi pacar kamu. Please, tetap ada di sisi aku..”, mohon Naddine dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, maafin aku juga ya Nadd. Jangan nangis lagi yah abis ini. Aku janji akan tetap ada buat kamu kapan pun kamu butuh aku.”
Naddine hanya diam menatap Rain. Ia tidak bisa menahan air mata yang sudah bersarang di pelupuk matanya, air mata itu jatuh. Naddine menunduk, ia tidak ingin Rain melihatnya menangis lagi.
Rain maju selangkah dan memeluk gadis yang ada di depannya itu. Ia sudah tidak kuat lagi
menahannya. Ia mengusap punggung Nadd. Naddine menangis di dada laki-laki itu, membasahi
bajunya, mengeratkan pelukan mereka, meremas punggung Rain. Rain membiarkan gadis itu menangis beberapa lama, sampai tangisannya reda barulah ia melepaskan pelukan itu.
“kamu udah makan? Kamu pucat banget. Kamu bisa kan pulang sendiri, aku engga bisa nganterin kamu. Aku harus balik ke sekolahan. Kamu kuat kan?”, tanya Rain.
Naddine mengangguk pelan. Lalu Rain mengikutinya melangkah ke motor mereka.
“Jangan nangis lagi yah. Nanti aku chat kamu.”, kata Rain sambil tersenyum tipis.
“kan aku kamu delcont”,
“sini hape kamu”
Setelah mendapatkan hape Naddine, Rain menginvite kembali pin bbm nya. Dan mengacceptnya.
“nih udah kan, maaf yah”, seraya memberikan hape Naddine kembali ke sang pemiliknya.
Naddine berdehem pelan menjawab omongan Rain. Ia memasukkan hapenya ke dalam tasnya.
Ketika Naddine ingin memakai helmnya, Rain menahannya. Ia menarik tubuh Nadd mendekat kepadanya dan memberikan kecupan lama di kening Nadd.
Nadd kaget, tapi ia hanya diam memejamkan mata merasakan kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya. Lalu tangannya kembali memeluk Rain lagi.
“itu hadiah dari perpisahan kita. Ciuman kening dengan penuh ketulusan”, kata Rain dengan senyum mengembang di wajahnya.
Naddine tersenyum tipis. “makasih yah beb”, Naddine menutup mulutnya. Ia terbawa kebiasaan memanggil Rain dengan sebutan beb.
“gapapa kalo mau masih manggil beb. Aku juga sebenernya pengen manggil kamu beb, tapi takut kamu marah.”, Rain menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“gapapa aku gak marah”, jawab Nadd cepat.
Rain tersenyum mendengarnya.
“Yaudah pulangnya hati-hati yah. Aku anter sampe depan sekolahan. Kalo ada apa apa di jalan kamu telpon aku” kata Rain sambil memasangkan helm ke kepala Naddine seperti kebiasaan mereka dulu.
Naddine menjawab dengan mengangguk pelan.
Naddine pun pulang dengan diikuti Rain di belakangnya, tapi Rain hanya mengikutinya sampai depan gerbang sekolah. Ia berbelok ke dalam sekolah setelah sebelumnya membunyikan klakson dan berteriak “hati-hati bawa motornya”.
Naddine tersenyum pedih melihatnya dari kaca spion. Ia dan Rain kita bukan lagi sepasang kekasih. Niatnya untuk memohon pada Rain hari ini pupus, ia malah menyetujui permintaan Rain untuk putus dan namun tetap bisa bersama. Naddine tidak bisa menepati keinginan Rain untuk tidak menangis lagi, karena kenyataannya sekarang Naddine mengendarai motornya pulang dengan mata bercucuran air mata. Dia menangis di sepanjang jalan sampai ke rumahnya.

No comments:
Post a Comment